Minggu, 05 Desember 2010

syair-syair malam

Bertekur
Diluar sana malam menyapa
Terbayang hidup di taman hampa
Mimpipun tak jua terjaga
Pajaman mata coba tipu hati yang bergelora
Disini pandangan sengsara berbaur
Jiwa tertatih kejar alur tafakur
Candra dimuka bergolak nafsu terlebur
Desah si hamba tengah sepi mangalun syukur

Kotoran mutiara
Terasa kering sungai sanubariku
Padahal hujan mengguyur kuyub jasadku
Luas lautan coba ku salami,
Tapi bak sampah yang hanya terapung Bersama kotoran kenistapaan
Apakah mutiara di dalam sana hanya dongeng belaka
Ataukah memang sampah ini terlalu kotor
Sehingga tujuh samudrapun jijik
Kemudian menghempaskannya pada karang keangkuhan
Kalbuku terseok-seok menyusuri pantai
Hanya bisa membayang mutiara nan makin jauh disana
Sampah tetaplah kotor
Tak pantas mengharapkan anugrah sucinya
Ingatlah kau hanya pantas ditendang, diinjak, dihina
Adapun tangan suci memungutmu
itu adalah anugerah ilahi yang tak terkira

merindu
semakin hari terasa semakin gelap
tak tahu apa di depan sana
hati resah tangan menggapai payah
coba genggam sesuatu, tapi semuanya rapuh
mata angin terasa terus berubah
kompas hati tak tentu arah
sedangkan di belakang sana mega makin memerah
apakah harus menyerah?
Oh, dzat pengendali waktu
Hanya engkau yang tahu sampai kapan kalbu terus membeku
Berilah cahaya menuju jalanmu
Tetapkanlah jalanku
Mantapkanlah jiwaku untuk terus berseru
Berseru … berseru … berseru
Memanggil namamu
Mendekatimu
Selalu bersamamu
Sampai kapanpun aku merindumu






Jiwa
Ketika ia kau biarkan begitu saja
Tanpa penjaga di sampingnya
Padahal karena ia kau disebut manusia
Syetanlah yang menjamah
Melindas hingga pecah
Mencabik-cabik hancur sampai musnah
Tak seorangpun bisa menahan
Hingga ia di karuniai iman
Saying kini jarang di ini zaman

Onggokan kata
Tak seonggok katapun keluar
Ketika imajinasi di hati tak terbongkar
Ia hanya akan menjadi letupan emosi yang terurai
Dangkal, menggumpal lalu mati tak berarti
Tak seonggok katapun keluar
Karena ia terlalu besar dan kekar
Walaupun untuk si mulut besar
Atau terpaksa nongol bersama lidah yang terkapar
Kejernihan jiwa yang mengalir akan menggolontorkan onggokan kata
Melalui hikmah
Hingga ruh terjamah pasrah

Lancang
Malam, gelap dan dingin
Adalah tiga kawanan tak terpisahkan
Kadang menjadi hantu menakutkan
Kadang teman kasih kasmaran
Bisiknya tundukkan pohon-pohon cemara
Kisah-kisahnya membuai mimpi si upik
Ketenangannya siratkan berjuta rahasia
Kepolosannya membuat bintang-bintang berkelip melirik
Teman keluh kesah tak pernah membantah
Obat jiwa-jiwa gundah gelisah
Tajamkan rasa bagai batu asah
Tebarkan damai di bumi yang pecah
Malam hanya menjadi malam bagi si hati kelam
Gelap sekat manusia laknat
Dingin kelukan batin
Ya Alloh….
Misterimu disini kau simpan rapat
Izinkanlah si buta ini mengintip pedalamannya
Sedikit saja
Ah terlalu berlebihankah
Astaghfirullahal’adzim
Hambamu lancang
Ya Alloh…….